#PUISI
Kukutu
Kukutu Meloncat menemui kulit mu Merayap dalam selaput saraf Melatah tanpa bayang yang perlu Kukutu Menyusup sebagai angin senja Menyusut serupa ingata
Kendali
Dengan ketentuan Kemerdekaan Kebebasan Kenikmatan Dengan kepedulian Tuli Bisu Lumpuh Dengan semangat Bisikan Lirikan Desahan Deng
Raut
Dengan teriknya, dalam Aku temui dua bola mata Mendekam selama kenangan Dan belati mulai menyapa Dengan ringkusnya, ganas Ia melempar tatapan Memaksaku
Bertumbuh
Tumbuhlah dengan semangat di antara gulma di cela batu di tanah gersang di dekap kemarau Tumbuhlah jangan sesak nafas radioaktif efek rumah kaca huta
Mendaku
Pohon tua mengandung misteri Merawat kehidupan akbar Merelahkan dirinya sebagai rumah Mengikat hara dengan mesrah Pohon tua menampung kegetiran Asap tim
Metamorphosis (Keotok)
Bersoraklah Hujan menjarah dua hari Mentari tak begitu ganas baginya Dingin menyertai ketibaan dahulu Bermadalah Langit bercabang getir Tak tahu hangat
METABOLISME
Besar kepala membekap hati Saraf tiba dititik didih Kata melesat Bagai peluruh Merobek ketombe, muncrat seluruh Tak mampu mengendalikan suasana Udara me
INGATAN
Dan ku kalung setiap kenangan Tak lagi sedih melanda Juga duka menguras energi Hanya ada tawa ria Biarlah ku simpan senyum Ku patri sebagai rahasi
80
Sepagi, udara membawa anyir darah Muncrat dari tubuh segar harapan Yang tumbuh subur sebagai janji Diatas mimbar-mimbar kenegaraan Sesiang, udara
