80
Sepagi, udara membawa anyir darah
Muncrat dari tubuh segar harapan
Yang tumbuh subur sebagai janji
Diatas mimbar-mimbar kenegaraan
Sesiang, udara bergerak melahirkan angin
Serta bau bangkai begitu tebal
Menelusuri lorong-lorong tanpa nama
Yang hilang dalam ingatan, amnesia
Semalam, angin mengamuk badai
80 tahun hanyalah angka yang tertulis
Mayat-mayat berhamburan memenuhi Lorong
Mati dikarenakan, perut tak diisi biji beras
Setengah malam, 19 lapangan pekerjaan
Timbul di dubur politisi
Lewohoko, 6 Agustus 2025
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Kukutu
Kukutu Meloncat menemui kulit mu Merayap dalam selaput saraf Melatah tanpa bayang yang perlu Kukutu Menyusup sebagai angin senja Menyusut serupa ingatan Menguap menurut m
Kendali
Dengan ketentuan Kemerdekaan Kebebasan Kenikmatan Dengan kepedulian Tuli Bisu Lumpuh Dengan semangat Bisikan Lirikan Desahan Dengan ingin Tanpa malu
Raut
Dengan teriknya, dalam Aku temui dua bola mata Mendekam selama kenangan Dan belati mulai menyapa Dengan ringkusnya, ganas Ia melempar tatapan Memaksaku menumbuhkan ingatan
Bertumbuh
Tumbuhlah dengan semangat di antara gulma di cela batu di tanah gersang di dekap kemarau Tumbuhlah jangan sesak nafas radioaktif efek rumah kaca hutan terbakar penggusu
Mendaku
Pohon tua mengandung misteri Merawat kehidupan akbar Merelahkan dirinya sebagai rumah Mengikat hara dengan mesrah Pohon tua menampung kegetiran Asap timbul disetiap arah ma
PETAPA
Pohon tua mengandung misteri Merawat kehidupan akbar Merelahkan dirinya sebagai rumah Mengikat hara dengan mesrah Pohon tua menampung kegetiran Asap timbul disetiap arah ma
Lembar menguning
Setiap pagi mentari timbul Nyanyian indah kumbang menyambut Tari menari burung madu merayakan Embun terbangun menyentuh tanah Udara belum tercumbu polusi Sisa mimpi masih m
Metamorphosis (Keotok)
Bersoraklah Hujan menjarah dua hari Mentari tak begitu ganas baginya Dingin menyertai ketibaan dahulu Bermadalah Langit bercabang getir Tak tahu hangat bersembunyi Dimana
IKLAN
Berlari menembus Semak Anjing gonggong mengejar, ganas Bungga gulma melekat di baju partai Dan angin membawa bau badan Terik mentari menembus kulit Air Lemak Merembes Bag
SENGAU
Begitu rimbun dan angun Burung-burung bernyanyi di dahan Bunga-bunga merekah, ayu Aku menggenggam isi kepala Apa kabar? Penuh malu-malu Tersempuh mengunyah keadaan Aku me
